Postingan

Coretan

Tabu Mengingatmu tidak cukup. Bahkan pada serpihan-serpihan kecil. Sudut kamar itu tergeletak seberkas  Senyummu yang terkujut abu. Kaca jendela menghilangkan bayangannya, Mengartikan segala makna. Senyum merekah kian pudar. Merindukanmu, memahat  luka yang mendalam. Adakah yang paling tabu Selain merindukan??
Kau akan tahu bagian paling brengsek dalam mencintai, ketika orang yang kau cintai sepenuhnya hanya mencintaimu seperlunya ssja.

Puisi

Tanpa kau tau telah ku tanam rindu Pada dinding-dinding kamarmu. ~Inda Dasni

Puisi-Jejak Arah Pena

Jejak Arah Pena Goresan demi goresan Tak temu ujung pena Kata demi kata kurangkai Ke manakah ujung pena tertuju Aku ingin sampai Keujung pena yang membekas Kata apa yang akan ku gores supaya menjadi kata nan indah bunyi dan larik tak seirama kata yang tak ada Nada Tanda pun tak beraturan Ahhhh Apakah tinta dalam penaku kurang?? Ketikan dalam puisiku tak ada makna Aku meringkuk Cahaya laptop mulai meredup Untuk merumus huruf dalam kata Bahkan Kata dalam kalimat Sangat sulit Di ruangan ini Seakan-akan aku penjara Aku terteguk, dalam kegelapan Kepalaku sangat berat Pikiranku tak menentu arah Inda Dasni

puisi

Akankah Sempurna?? Kesunyian di tengah keramaian Aku menyeruput kopi Sambil menatap lalu lalang penghuni kota ini Menjadi kebiasaan saat menunggu matahari tenggelam Menanti.... Sudah menjadi kebiasaan hidupku Yang kelam menanti waktu Untuk rasa yang mau dijemput Tentangmu tak bisa dirangkai menyeluruh Sementara kehadiranmu selalu dinantikan Aku dan hati berperang melawan rindu Seperti apa dan sampai kapan rinduku berujung Bila waktunya tiba Mungkin hati dan rindu akan sempurna Ahhh kelabu sekali hati ini Sayangku Aku akan selalu menunggu mu ~Inda Dasni

Hujan

Hujan di Ruteng, seakan aku mengingatmu kala itu.  Nana kopi yang pernah ku seduh, masih terasa nikmat jika hujan seperti ini. Ingin sekali aku ke rumah lagi nana, hanya ingin menikmati secangkir kopi buatanmu. Nana aku merindukanmu. ~Inda Dasni

Nafas Kataku

Gambar
Nafas Kataku Suaramu terbang bersama angin. Aku di sini masih bertanya-tanya. Kemana tujuan suara itu? Aku ingin berteman dengan angin. Haaa angin??? Aku sendiri pun tak tau. Bentuk, rupa dari angin itu. Diam tidak selamanya emas, Begitupun pergi tidak selamanya dicari. Aku ingin tahu, apakah kita masih merajut? Atau bahkan pergi bersama angin itu. Aku berharap diamu, jawaban dari pertanyaanku. Aku hanya bisa bercengkrama, Dalam nafas kataku. Inda Dasni